KITAB SIRRUR ASROR BAB
2:
MANUSIA KEMBALI KE ASALNYA
اَعُوْذُ بِااللهِ مِنَ اْلشَّيْطَا نِ الْرَجِيْم بِسْمِ اللهِ
اْلَرّحْمنِ اْلرَحِيْمِ
اَشْهَدُ اَنْ لا َاِلَهَ اِلا الله وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ
الله
اَلله ُوَحْدهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ مُحَمَّدٌ عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهْ حَقُّ
الله - رَحْمَةُ الله – رِضَأ الله
Manusia bisa dipandang dari dua sudut, wujud lahiriah dan wujud rohani.
Dalam segi kewujudan lahiriah keadaan kebanyakan manusia adalah hamper
sama di antara satu sama lain. Oleh yang demikian peraturan kemanusiaan
yang umum boleh digunakan untuk manusia lain bagi urusan lahiriah
mereka. Dan dari sudut wujud rohani yang tersembunyi di balik wujud
lahiriah, setiap manusia adalah berbeda. Jadi, peraturan yang khusus
mengenai diri masing-masing diperlukan.
Manusia boleh kembali kepada asalnya dengan mengikuti peraturan umum,
dengan mengambil langkah-langkah tertentu. Dia mestilah mengambil
peraturan agama yang jelas dan mematuhinya. Dengan demikian dia boleh
maju ke depan. Dia boleh meningkat dari satu peringkat kepada peringkat
yang lebih tinggi sehingga dia sampai dan memasuki jalan atau peringkat
kerohanian, masuk ke daerah makrifat. Peringkat ini sangat tinggi dan
dipuji oleh Rasulullah s.a.w :
“Ada suasana yang semua dan segala-galanya berkumpul di sana dan ia
adalah makrifat yang murni”.
Untuk sampai ke peringkat tersebut sangat Perlu dibuang kepura-puraan
dan kepalsuan dalam melakukan kebaikan. Kemudian dia perlu menetapkan
tiga derajat. Tiga derajat tersebut sebenarnya adalah tiga jenis surga.
1. Ma’wa – surga tempat kediaman yang aman. Ia adalah surga duniawi.
2. Na’im – taman keridhaan Allah dan karunia-Nya kepada makhluk-Nya. Ia
adalah surga di dalam alam malaikat.
3. Firdaus – syurga alam tinggi. Ia adalah surga pada alam kesatuan akal
asbab, rumah kediaman bagi roh-roh, medan bagi nama-nama dan
sifat-sifat. Kesemua ini adalah balasan yang baik, keelokan Allah yang
manusia berjasad akan nikmati dalam usahanya sepanjang tiga peringkat
ilmu pengetahuan yang berturut-turut; usaha mematuhi peraturan syari’at,
usaha menghapuskan yang berbilang-bilang pada dirinya, melawan penyebab
yang menimbulkan suasana berbilang-bilang itu, yaitu ego diri sendiri,
bagi mencapai peringkat penyatuan dengan Pencipta, akhirnya usaha untuk
mencapai makrifat, di mana dia mengenali Tuhannya.
Peringkat pertama dinamakan syariat, kedua tarekat dan ketiga makrifat.
Nabi Muhammad s.a.w menyimpulkan keadaan-keadaan tersebut dengan sabda
baginda s.a.w,
“Ada suasana di mana semua dan segala-galanya dikumpulkan dan ia adalah
hikmah kebijaksanaan (makrifat)”.
Baginda s.a.w juga bersabda,
“Dengannya seseorang mengetahui kebenaran (hakikat), yang berkumpul di
dalamnya sebab-sebab dan semua kebaikan. Kemudian seseorang itu mesti
bertindak atas kebenaran (hakikat) tersebut. Dia juga perlu mengenali
kepalsuan dan bertindak ke atasnya dengan meninggalkan segala yang
demikian”.
Baginda s.a.w mendoakan,
“Ya Allah, tunjukkan kepada kami yang benar dan berilah kami kemampuan
mengikuti yang benar itu. Dan juga tunjukkan kepada kami yang tidak
benar dan permudahkan kami meninggalkannya”.
Orang yang kenal dirinya dan menentang keinginannya yang salah dengan
segala kekuatannya akan sampai kepada mengenali Tuhannya dan akan
menjadi taat kepada kehendak-Nya.
Semua ini adalah peraturan umum yang mengenai sisi lahir manusia.
Kemudian ada juga aspek sisi rohani atau diri batin manusia yang
merupakan insan yang murni, suci bersih dan murni. Maksud dan tujuan
diri ini hanya satu yaitu kehampiran secara keseluruhan kepada Allah
s.w.t. Satu cara saja untuk mencapai suasana yang demikian, yaitu
pengetahuan tentang yang sebenarnya (hakikat). Di dalam daerah wujud
penyatuan mutlak, pengetahuan ini dinamakan kesatuan atau keesaan.
Derajat pada jalan tersebut harus diperoleh di dalam kehidupan ini. Di
dalam suasana itu tiada beda di antara tidur dengan jaga, karena di
dalam tidur roh berkesempatan membebaskan dirinya untuk kembali kepada
asalnya, alam arwah, dan dari sana kembali lagi ke sini dengan membawa
berita-berita dari alam ghaib. Fenomena ini dinamakan mimpi. Dalam
keadaan mimpi ia berlaku secara sebagian-bagian. Ia juga boleh berlaku
secara menyeluruh seperti isra’ dan mi’raj Rasulullah s.a.w. Allah
berfirman:
اللَّهُ يَتَوَفَّى الأَنفُسَ حينَ مَوتِها وَالَّتى لَم تَمُت فى مَنامِها
ۖ فَيُمسِكُ الَّتى قَضىٰ عَلَيهَا المَوتَ وَيُرسِلُ الأُخرىٰ إِلىٰ
أَجَلٍ مُسَمًّى ۚ إِنَّ فى ذٰلِكَ لَءايٰتٍ لِقَومٍ يَتَفَكَّرونَ
Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang)
yang belum mati di waktu tidurnya; Maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang
telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai
waktu yang ditetapkan[1313]. Sesungguhnya pada yang demikian itu
terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir. (Surah
Zumaar, ayat 42).
[1313] Maksudnya: orang-orang yang mati itu rohnya ditahan Allah
sehingga tidak dapat kembali kepada tubuhnya; dan orang-orang yang tidak
mati hanya tidur saja, rohnya dilepaskan sehingga dapat kembali
kepadanya lagi.
Nabi s.a.w bersabda, “Tidur orang alim lebih baik daripada ibadahnya
orang jahil”.
Orang alim adalah orang yang telah memperoleh pengetahuan tentang
hakikat, yang tidak berhuruf, tidak bersuara. Pengetahuan demikian
diperoleh dengan terus menerus berzikir nama keesaan Yang Maha Suci
dengan lidah rahasia. Orang alim adalah orang yang zat dirinya
ditukarkan kepada cahaya suci oleh cahaya keesaan. Allah berfirman
melalui rasul-Nya:
“Insan adalah rahsia-Ku dan Aku rahsianya. Pengetahuan batin tentang
hakikat roh adalah rahasia kepada rahsia-rahsia-Ku. Aku campakkan ke
dalam hati hamba-hamba-Ku yang baik-baik dan tiada siapa tahu Keadaannya
melainkan Aku.”
“Aku adalah sebagaimana hamba-Ku mengenali Daku. Bila dia mencari-Ku dan
ingat kepada-Ku, Aku besertanya. Jika dia mencari-Ku di dalam, Aku
mendapatkannya dengan Zat-Ku. Jika dia ingat dan menyebut-Ku di dalam
jamaah yang baik, Aku ingat dan menyebutnya di dalam jamaah yang lebih
baik”.
Segala yang dikatakan di sini jika mau mencapainya perlulah melakukan
tafakur – cara mendapatkaan pengetahuan yang demikian jarang digunakan
oleh orang ramai. Nabi s.a.w bersabda,
“Satu saat bertafakur lebih bernilai daripada satu tahun beribadat”.
“Satu saat bertafakur lebih bernilai daripada tujuh puluh tahun
beribadat”. “Satu saat bertafakur lebih bernilai daripada seribu tahun
beribadat”.
Nilai sesuatu amalan itu tersembunyi di dalam hakikat kepada yang
sebenarnya. Perbuatan bertafakur di sini nampaknya mempunyai nilai yang
berbeda.
Siapa merenungi sesuatu perkara dan mencari penyebabnya dia akan
mendapati, setiap bagian mempunyai bagian-bagian sendiri dan dia juga
mendapati setiap satu itu menjadi penyebab kepada berbagai perkara lain.
Renungan begini bernilai satu tahun ibadat.
Siapa merenungi kepada pengabdiannya dan mencari penyebab dan alasan dan
dia dapat mengetahui yang demikian, renungannya bernilai lebih daripada
tujuh puluh tahun ibadat.
Siapa merenungkan hikmah kebijaksanaan Ilahi dan bidang makrifat dengan
segala kesungguhannya untuk mengenal Allah Yang Maha Tinggi, renungannya
bernilai lebih daripada seribu tahun ibadat karena ini adalah ilmu
pengetahuan yang sebenarnya.
Pengetahuan yang sebenarnya adalah suasana keesaan. Orang arif yang
menyintai menyatu dengan yang dicintainya. Daripada alam kebendaan
terbang dengan sayap kerohanian meninggi hingga kepada puncak
pencapaian. Bagi ahli ibadat berjalan di dalam surga, sementara orang
arif terbang kepada kedudukan berhampiran dengan Tuhannya. Para pencinta
mempunyai mata pada hati mereka, mereka memandang sementara yang lain
terpejam, sayap yang mereka miliki tanpa daging tanpa darah, mereka
terbang ke arah malakut, hanya Tuhan yang dicari.
Penerbangan ini terjadi di dalam alam kerohanian orang arif. Para
arifbillah mendapat penghormatan dipanggil insan sejati, menjadi kekasih
Allah, sahabat-Nya yang akrab, pengantin-Nya. Abu Yazid al-Bustami
berkata, “Para Pemegang makrifat adalah pengantin Allah Yang Maha
Tinggi”.
Hanya pemilik-pemilik ‘pengantin yang pengasih’ mengenali mereka dengan
dekat dan secara mesra.. Orang-orang arif yang menjadi sahabat akrab
Allah, walaupun sangat cantik, tetapi ditutupi oleh keadaan luar yang
sangat sederhana, seperti manusia biasa. Allah berfirman melalui
rasul-Nya:
“Para sahabat-Ku tersembunyi di bawah kubah-Ku. Tiada yang mengenali
mereka kecuali Aku”.
Kubah yang di bawahnya Allah sembunyikan sahabat-sahabat akrab-Nya
adalah keadaan mereka yang tidak terkenal, rupa yang biasa saja,
sederhana dalam segala hal. Bila melihat kepada pengantin yang ditutupi
oleh tabir perkawinan, apakah yang dapat dilihat kecuali tabir itu?
Yahya bin Muadh al-Razi berkata, “Para kekasih Allah adalah air wangi
Allah di dalam dunia. Tetapi hanya orang-orang yang beriman yang benar
dan jujur saja dapat menciumnya”. Mereka mencium keharuman baunya lalu
mereka mengikuti bau itu. Keharuman itu mengwujudkan kerinduan terhadap
Allah dalam hati mereka. Masing-masing dengan cara tersendiri
mempercepatkan langkahnya, menambahkan usaha dan ketaatannya. Derajat
kerinduannya, keinginannya dan kelajuan perjalanannya tergantung kepada
berapa ringan beban yang dibawanya, sejauh mana dia telah melepaskan
diri kebendaan dan keduniaannya. Semakin banyak seseorang itu
menanggalkan pakaian dunia yang kasar ini semakin dia merasakan
kehangatan Penciptanya dan semakin sampai pada permukaan akan muncul
diri rohaninya. Kesampaian (wushul) dengan yang sebenarnya (hakikat)
bergantung kepada sejauh mana seseorang itu melepaskan kebendaan dan
keduniaan yang menipu daya.
Penanggalan aspek yang berbilang-bilang pada diri, membawa seseorang
hampir dengan satu-satunya kebenaran. Orang yang akrab dengan Allah
adalah orang yang telah membawa dirinya kepada keadaan kekosongan. Hanya
setelah itu barulah dia dapat melihat kewujudan yang sebenarnya
(hakikat). Tidak ada lagi kehendak pada dirinya untuk dia membuat
sebarang pilihan. Tiada lagi ‘aku’ yang tinggal, kecuali kewujudan
satu-satunya yaitu yang sebenarnya (hakikat). Walaupun berbagai-bagai
kekeramatan yang muncul melalui dirinya sebagai membuktikan
kedudukannya, dia tidak ada pengaruhnya dengan semua itu. Di dalam
suasananya tidak ada pembukaan terhadap rahasia-rahasia karena membuka
rahsia Ilahi adalah kekufuran.
Di dalam buku yang bertajuk “Mirsad” dituliskan, ‘Semua orang yang
kekeramatan zahir melalui mereka ditutup darinya dan tidak memperdulikan
keadaan tersebut. Bagi mereka masa kekeramatan muncul dari mereka
dianggap sebagaimana perempuan keluar darah haid. Wali-wali yang hampir
dengan Allah perlu mengembara sekurang-kurangnya seribu peringkat, yang
pertamanya ialah pintu kekeramatan. Hanya mereka yang dapat melepasi
pintu ini tanpa dicederakan akan meningkat kepada peringkat-peringkat
lain yang lebih tinggi. Jika mereka luka mereka tidak akan sampai ke
mana-mana.
Read more at: http://alifbraja.blogspot.com/2012/07/kajian-lengkap-kitab-sirrul-asror.html
Copyright © ALIFBRAJA|alifbraja.blogspot.com Under Common Share Alike Atribution
Read more at: http://alifbraja.blogspot.com/2012/07/kajian-lengkap-kitab-sirrul-asror.html
Copyright © ALIFBRAJA|alifbraja.blogspot.com Under Common Share Alike Atribution
Tidak ada komentar:
Posting Komentar