WALI JADZAB
Jadzab dalam kamus bahasa Arab
Jadzaba-Yajdzibu-Jadzban yang berarti menarik, sedang obyek atau Maf’ul Majdzub
orang gila yang berkeramat.
Berbeda dengan orang
gila yang dalam kamus bahasa Arab Janna-Yajunnu-Jannan artinya menutup, sedang Junna-
Junuunan artinya gila, hilang akal, dan obyek atau maf’ul Majnuun artinya orang
gila.
Istilah Jadzab
ditulis oleh Imam Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim bin
Athoillah Assakandari (658 H/1259 M –709 H/1309 M)
dalam kitab Al-Hikam 5)
Dalam terjemah Al
Hikam juga menyebutkan bahwa orang yang dapat diberi kedekatan kepada ALLAH itu
ada dua macam:
Salik dan Majdzub.
Salik yaitu
perjalanan usaha memperoleh dapat dekat kepada ALLAH mencapai ma’rifatullah,
dengan cara meningkatkan dan mengembangkan iman dengan menghilangkan akhlaq
tercela menggantinya dengan akhlak yang terpuji, seperti halnya akhlak imaniyah
ataupun ijtimaiyyah (kemasyarakatan).
Majdzub yaitu
orang yang ditarik ke hadirat ALLAH; dengan kehendak ALLAH, tanpa melewati
urutan suluk dalam thariqat. Jika salik dapat menguasai akal sedang majdzub
tidak bisa menguasai akal sebab tertutup oleh Nur Ilahiyyah, maka terkadang
majdzub sering meninggalkan kewajiban agama, dan menurut syar’i tidak berdosa
sebab seperti orang gila. Sedang majnun hilang akal / gila sebab tertutup oleh
Nur Syayatiin.
Secara syar’i orang
Jadzab dan Majnun mungkin memiliki persamaan yaitu hilang akal dan dikatakan
sebagai orang gila, dihukumi sama dalam arti tidak berkewajiban menjalankan
syariat sebagaimana mestinya sebab hilang akalnya (‘Udzur).
Jika ALLAH
menghendaki untuk menyempurnakan majdzub maka akan diberi kesadaran akal. Jika
salik berawal memahami Af’al ALLAH-Asma-asma ALLAH-Sifat-sifat ALLAH (Hayat,
Ilmu, Irodat, Qudrat, Sama’, Basor, dan Kalam)- kemudian mengerti Dzat ALLAH,
jadi salik naik secara sedikit-sedikit.
Majdzub langsung
menyaksikan kesempuraan Dzat ALLAH menuju Sifat-sifat ALLAH-menuju kejadian
makhluk dengan asma-asma ALLAH, menuju perubahan semua makhluk.
Contoh Tokoh Tasawuf Falsafi (Yang
mengalami Jadzab / ekstase)
1. Abu
Yazid Thaifur bin Isa Al-Bustami lahir 188 H
2. Abul
Mughits Al-Husain bin Mansur Al-Hallaj lahir di Baiha Persia,
3. Abu
Bakar Muhammad Muhyidin bin Arabi Hatimi Al-Thai, lahir di Mursieh, Spanyol
bagian selatan 570 H /1165 M,
Dan masih banyak lagi
tokoh-tokoh sufi yang pernah mengalami JADZAB. Gus Dur dan Gus Miek termasuk
diantaranya yang pernah mengalami JADZAB.
Semua ajaran baik
yang bersifat dhohir ataupun batin tidak akan memberi kemanfaatan jika tidak
ditujukan untuk mengharap kedekatan kepada ALLAH, dan semua usaha akan sia-sia
jika tidak diiringi dengan kebersihan jiwa, dengan kebersihan jiwa manusia
dapat bersatu dengan Tuhan-Nya (tempat kembali) karena kita berasal dari – NYA
dan akan kembali kepadaNYA.
Penghulu para sufi
Syaikh Muhyidin Abu Muhammad Shultonil Auliya Sayyidi Syaikh Abdul Qadir
Al-Jaelani bin Abi Sholih Musa Janka Dausat, lahir 471 H / 1077 M wafat 561 H /
1166 M 11), mengatakan :
“Tidak akan diperkenankan
(duduk) berdampingan (dengan) disisi ALLAH Ta’ala kecuali orang yang sudah
membersihkan diri dari berbagai macam kotoran (Suci Jiwanya)”.
Semoga kita semua
dikehendaki oleh ALLAH menjadi orang yang dekat, bahkan lebih dekat dari kita
sendiri, dan dituntun oleh Qudrat dan Irodat ALLAH dengan Ilmu-NYA menuju
Ma’rifat Uluhiyyah, hingga tersinari oleh cahaya Rabbaniyyah, dan melebur dalam
Sifat Hayat-NYA.
Shalawat serta salam
semoga tercurah kepada manusia sempurna kekasih ALLAH, NABI MUHAMMAD SAW bin
Abdullah bin Abdul Mutthalib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qushay bin KILAB
bin Murroh bin Ka'ab bin Lu'ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nudlor bin
Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin ilyas bin Mudlor bin Nizar bin Ma'ad bin
Adnan bin Add bin Humaisi‘ bin Salaman bin Aws bin Buz bin Qamwal bin Obai bin
‘Awwam bin Nashid bin Haza bin Bildas bin Yadlaf bin Tabikh bin Jahim bin
Nahish bin Makhi bin Ayd bin ‘Abqar bin ‘Ubayd bin Ad-Da‘a bin Hamdan bin
Sanbir bin Yathrabi bin Yahzin bin Yalhan bin Arami bin Ayd bin Deshan bin
Aisar bin Afnad bin Aiham bin Muksar bin Nahith bin Zarih bin Sami bin Wazzi
bin ‘Awda bin Aram bin Qaidar bin Nabi ISMAIL AS bin Nabi IBRAHIM AS, beserta
keluarga dan sahabatnya, yang menarik kita dibawah benderanya.
Dia menyendiri dengan Dzat yang
maha sepi
Dia menyatu dengan dzat yang
maha satu
Dia menyendiri dengan dzat yang
maha sendiri
Dia menepi dengan dzat yang
maha sunyi
Dia merindukan sang cinta
Demikianlah...
Ku lihat dia bertapa atas dunia
Dunia pun muak melihatnya
Maka, dia meninggalkan dirinya
sendiri
Dari orang-orang menyendiri
Sesekali dia terbang meninggi
menyendiri
Dan menanggung segala resiko
seorang diri
Dia pun mengepakkan sayapnya
untuk berpasrah diri
Terpisah dari nafsu dan
perasaan hati
Hingga dia mentalak dirinya
sendiri
Karena dia bukanlah muhrim bagi
dunia
Hingga dia pun haram untuk
menyentuhnya
Baginya... semua yang tersaji
di dunia
Hanyalah bangkai-bangkai yang
terserak di comberan
Yang lain menganggapnya telah
kufur
Sebenarnya dia tenggelam dalam
syukur
Yang lain menduga tersungkur
Sebenarnya dia terapung di laut
tafakkur
Yang lain mengira kafir
Sebenarnya dia larut dalam
sunyatnya dzikir
Yang lain menduga murtad
Sebenarnya dia mencuat dalam
hakekat
Yang lain mengira bejat
Sebenarnya ia sedang munajat
Yang lain mengira tersesat
Sebenarnya dia khalwat
Yang lain mengira hatinya goyah
Sebenarnya dia sedang uzlah
Yang lain menduga zina
Sebenarnya dia fana
Yang lain mengira gila
Sebenarnya dia berenang dalam
laut khouf roja
Yang lain berprasangka hatinya
redup tertutup kabut
Hakekatnya dia qutub
Dia khumul yang mengalami hulul
sehingga menjadi wusul
Mereka semua mengatakan dia
terhijab
Padahal dia sedang tengelam
dalam jadzab
Dia pun berbisik; aku tak
peduli...
Sang wali tak akan pernah
siuman sampai Isrofil berteriak
Orang yang sholih (dekat kepada
Allah) ada 2 macam:
1. Orang
yang ditugaskan untuk khidmah kepada Allah (agama Allah) bukan untuk Allah
sendiri. Oleh karena itu orang ini harus tahu perintah-perintah dan
larangan-larangan lalu menjelaskannya kepada masyarakat. (amar ma'ruf nahi
munkar)
2. Orang
yang dikhususkan oleh Allah untuk mahabbah kepada-Nya. Dia tidak ingat apa-apa
kecuali Allah (مجنون في الله).
Dia tidak tahu apa itu baik dan jelek jadi dia tidak bisa amar ma'ruf nahi
munkar. Orang yang seperti ini terkadang masih mengikuti syari'at tapi tidak
bisa mengurusi syari'at tersebut dan juga terkadang ada yang jadzab baik penuh
maupun sebagian. Terkadang dia jadzab dan terkadang ingat. Ini semua karena ada
tajalli dari Allah (Allah tampak pada diri mereka).
"Ada orang-orang yang
Allah jadikan berkhidmat kepada-Nya dan ada orang-orang yang Allah pilih untuk
mencintai-Nya. Kepada masing-masing golongan itu, kami berikan bantuan dari
kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidaklah terbatas" (Surat Al-Isra': 20)
Semua orang yang
beriman pasti memiliki mahabbah. Baik sedikit maupun banyak mereka pasti
memiliki mahabbah. Dalam Al-Qur'an telah disebutkan :
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا
يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ
لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ (QS. Al Baqarah: 165)
"Dan diantara manusia ada
orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka
mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang
beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang
berbuat zalim itu*[1] mengetahui ketika mereka
melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya,
dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (QS. Al-Baqarah: 165)
*[1] yang dimaksud dengan orang
yang zalim di sini ialah orang-orang yang menyembah selain Allah.
Akan tetapi yang
paling banyak, mahabbah mereka wujud untuk khidmah kepada agama Allah
(berdakwah, mengajar, dll). Ini juga tak lain karena adanya tajalli dari Allah.
Oleh karena itu mahabbah ini tidak akan tertuju kepada selain Allah. Tajalli di
sini adalah sebagaimana dalam Al-Qur'an :
وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ
رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى
الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى
رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا فَلَمَّا أَفَاقَ
قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ (QS. Al A’raf: 143)
"Dan tatkala Musa datang
untuk (munajat dengan kami) pada waktu yang Telah kami tentukan dan Tuhan Telah
berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah
(diri Engkau) kepadaku agar Aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan
berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi Lihatlah ke
bukit itu, Maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu
dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu*[2],
dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah
Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, Aku bertaubat kepada
Engkau dan Aku orang yang pertama-tama beriman". (QS. Al-A'raf: 143)
*[2] para Mufassirin ada yang
mengartikan yang nampak oleh gunung itu ialah kebesaran dan kekuasaan Allah,
dan ada pula yang menafsirkan bahwa yang nampak itu hanyalah cahaya Allah.
Bagaimanapun juga nampaknya Tuhan itu bukanlah nampak makhluk, hanyalah nampak
yang sesuai sifat-sifat Tuhan yang tidak dapat diukur dengan ukuran manusia.
Jadi hati yang lemah
seperti ini kalau ada tajalli maka akan jatuh pingsan.
Kita memiliki dan
diberi mahabbah sangat sedikit tapi kalau sudah sampai pada derajat wahdatis
Syuhud maka semua akan dilupakan sehingga terkadang dia melupakan syari'at. Dia
akan seperti orang yang gila bahkan memang benar-benar gila sehingga dia tidak
kewajiban shalat dan ibadah lain. Dia tidak sadar dengan apa yang dilakukan. Lalu
apa tugas mereka sebagai wali Allah swt dan apa faedahnya?
Memang mereka tidak
ditugaskan untuk amar ma'ruf oleh Allah tapi mereka memiliki tugas yang tidak
bisa dilihat mata namun atsarnya akan kelihatan. Sebagaimana dijelaskan dalam
hadits :
حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ حَدَّثَنَا صَفْوَانُ حَدَّثَنِي
شُرَيْحٌ يَعْنِي ابْنَ عُبَيْدٍ قَالَ
ذُكِرَ أَهْلُ الشَّامِ عِنْدَ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَهُوَ بِالْعِرَاقِ فَقَالُوا الْعَنْهُمْ يَا أَمِيرَ
الْمُؤْمِنِينَ قَالَ لَا إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْأَبْدَالُ يَكُونُونَ بِالشَّامِ وَهُمْ
أَرْبَعُونَ رَجُلًا كُلَّمَا مَاتَ رَجُلٌ أَبْدَلَ اللَّهُ مَكَانَهُ رَجُلًا
يُسْقَى بِهِمْ الْغَيْثُ وَيُنْتَصَرُ بِهِمْ عَلَى الْأَعْدَاءِ وَيُصْرَفُ عَنْ
أَهْلِ الشَّامِ بِهِمْ الْعَذَابُ
Artinya: "Suatu ketika Ahli syam
disebut-disebut di hadapan Sayyidina Ali (ketika beliau di Irak) lalu penduduk
Irak berkata: laknatlah mereka wahai amirul mukminin. Sayyidina Ali menjawab:
tidak, saya pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: wali abdal itu berada di
syam, mereka ada 40 orang, ketika satu orang meninggal maka Allah mengganti
tempatnya dengan orang lain. Karena merekalah penduduk syam diberi hujan,
karena mereka penduduk syam ditolong dari musuh dan karena mereka penduduk syam
dihindarkan dari siksa"
حَدَّثَنَا أَبُو زُرْعَةَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بن عَمْرٍو
الدِّمَشْقِيُّ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بن الْمُبَارَكِ الصُّورِيُّ، حَدَّثَنَا
عَمْرُو بن وَاقِدٍ، عَنْ يَزِيدَ بن أَبِي مَالِكٍ، عَنْ شَهْرِ بن حَوْشَبٍ،
قَالَ: لَمَّا فُتِحَتْ مِصْرُ، سَبُّوا أَهْلَ الشَّامِ، فَأَخْرَجَ عَوْفُ بن
مَالِكٍ رَأْسَهُ مِنْ تُرْسٍ، ثُمَّ قَالَ: يَا أَهْلَ مِصْرَ , أَنَا عَوْفُ بن
مَالِكٍ، لا تَسُبُّوا أَهْلَ الشَّامِ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ:"فِيهِمُ الأَبْدَالُ، وَبِهِمْ
تُنْصَرُونَ، وَبِهِمْ تُرْزَقُونَ".
Artinya: "Ketika negara Mesir
dikuasai Islam, penduduknya mencaci maki ahli syam, lalu Auf bin Malik
mengeluarkan kepalanya dari perisainya dan berkata: wahai penduduk Mesir saya
adalah Auf bin Malik, janganlah kalian mencaci maki ahli syam karena saya
pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: dalam ahli syam ada wali abdal.
Karena merekalah ahli syam ditolong dan karena merekalah ahli syam diberi rizki"
Dalam Hadits lain:
Artinya: "Nabi Muhammad saw pernah
bersabda: banyak orang yang amburadul rambutnya, berdebu, dan hanya memiliki
dua pakaian yang rusak, namun jika mereka bersumpah dengan nama Allah maka
Allah pasti akan meluluskan sumpah tersebut"
Jadi tugas mereka
tidak kelihatan tapi berkahnya sangat besar bagi manusia. Lalu kenapa Allah
menjadikan dua hamba yang berbeda? memang sunatullah dalam menciptakan sesuatu
ada yang bervariasi sehingga tidak monoton. Kalau diciptakan seperti kelompok
yang pertama maka semua akan amar ma’ruf tapi tidak ada yang bisa menjadikan
bumi tenang dan kalau hanya yang seperti kelompok kedua maka tidak akan ada
amar ma’ruf.
Ada orang ziarah pada
Syekh Ramdhan. Orang ini seperti orang yang gila namun dia dimuliakan oleh Syekh
Ramdhan. Ketika ingin pulang Syekh Ramdhan meminta doa agar Allah memuliakannya
sebagaimana orang tersebut. Lalu orang tersebut berkata: "Kalau kamu
seperti saya nanti siapa yang mengurusi masyarakat". Lalu dengan cerita
ini apakah bisa menunjukan bahwa kelompok yang kedua lebih mulia dari pada
kelompok yang pertama. Tidak, karena ini semua hanyalah ciptaan dan sunnah
Allah. Pada zaman nabi beliau pernah berpesan pada sahabat Umar agar beliau
minta doa pada Uwais Al-Qarany.
Lalu bagaimana sikap
kita menghadapi dua hamba tersebut?. Hikmah Allah memang sangat besar.
Seandainya Allah memperlihatkan walinya maka semua yang tidak menjadi wali
pasti akan terlihat jelek, oleh karena itu Allah menutupinya. Dari sini kita
harus selalu berkhusnudzon, jangan-jangan orang yang kelihatan jelek adalah
wali Allah sehingga kita harus memuliakannya. Lebih baik kita tunduk kepada
orang walaupun sebenarnya dia tidak mulia daripada kita sombong pada orang yang
benar-benar mulia. Semua hamba tersebut (baik kelompok pertama maupun kedua)
dibantu oleh Allah swt sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an:
كُلًّا نُمِدُّ هَؤُلَاءِ وَهَؤُلَاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ
وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا (QS. Al Isra’: 20)
Artinya: Kepada masing-masing golongan
baik golongan ini maupun golongan itu kami berikan bantuan dari kemurahan
Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi. (QS. Al-Isra': 20)
Source: http://mistikus-sufi.blogspot.com/2013/11/menguak-misteri-wali-wali-jadzab.html#ixzz3yulbdTN7
Follow us: @Mistikus_Sufi on Twitter | mistikussufi on Facebook
Wali Allah Yang Tersembunyi / WALI
MASTUR
Banyak
Wali-wali Allah yang dimasyhurkan setelah wafatnya, di antaranya adalah Mbah
Priok. Sebelumnya, Wali Allah itu tersembunyi (mastur), tetapi karena
kehendak Allah jua akhirnya Beliau-beliau itu 'tampak ke permukaan'. Banyak
tanda kewalian seseorang terbuka secara nyata setelah terlihat jasadnya utuh
(tidak hancur) ketika dipindahkan.
Sebenarnya
banyak Wali-wali Allah yang disatarkan (tidak masyhur) khususnya di Pulau Jawa
ini. Di antaranya adalah Syekh Tubagus Sa'ari. Makam Beliau
terletak di area pemakaman Rawamangun. Beliau Hafizh (hafal Al-Quran) di masa
hidupnya. Karakter Beliau adalah tidak ingin dikenal sewaktu hidupnya.
Selanjutnya
adalah Syekh Raden Abdullah Mukmin, di Tangerang. Sewaktu hidup
Beliau dikenal sebagai sosok Ulama biasa yang mengajar dari rumah ke rumah,
musholla ke musholla. Padahal ilmunya banyak sekali. Beliau disamping Hafizh
Quran juga seorang Muhaddits, yang menghafal banyak sekali hadits-hadits
Rasulullah Saw. Beliau ini dikenal kewaliannya setelah jasadnya dipindahkan.
Tidak ada bekas kerusakan pada tubuhnya sebab berlalunya masa.
Di
daerah Betawi ada seorang Ulama yang bernama Syekh (Kiyai) Ghazali yang
semasa hidupnya gandrung (Mahabbah) dengan perilaku, karya, kebiasaan
yang dilakukan oleh Imam Hujjatul Islam, Abu Hamid al-Ghazali
ath-Thusi Rhm. Sampai-sampai hampir semua Kitab-kitab Imam al-Ghazali Beliau
miliki dan disimpan di rumahnya. Beliau wafat dalam usia 99 tahun.
Ada
lagi seorang Ulama yang dikenal dengan Wali Musa di Tangerang.
Beliau adalah penganut Tarekat Syadziliyyah Qadiriyyah. Beliau tidak memiliki
keturunan. Tapi semasa hidupnya dikenal sebagai seorang murid yang sangat
penurut (patuh) kepada Gurunya. Nabi Khidhir pun sulit menemui Beliau ini
lantaran dekatnya Beliau dengan Gurunya tersebut.
Kalau
ada yang pernah berkunjung ke Kebon Raya Bogor, di sana ada sebuah makam yang
tidak banyak orang mengetahui identitasnya. Beliau dikenal dengan nama Mbah
Jepra. Sebenarnya nama aslinya adalah Sayid Ja'far al-Idrus. Beliau lah
yang menundukkan komunitas Jin di tempat itu saat datang pertama kali ke
wilayah itu. Beliau dikenal sebagai Ahli Ilmu Mahabbah, sehingga apabila
seorang wanita melihatnya akan terpikat kepadanya. Beliau bersembunyi di tempat
itu hingga akhir hayatnya.
Di
dekat prasasti Batu Tulis Bogor ada sebuah makam pula yang dinamai
sebagai Mbah Dalem. Nama aslinya adalah Syekh Sayid Ahmad
al-'Athas. Beliau termasuk abdi dalem kerajaan. Kebiasaan Beliau adalah selalu
nyepi dan khalwat. Karunia yang Allah berikan padanya adalah di bidang
kanuragan dan kewibawaan.
Di
daerah Madura ada seorang Ulama yang tidak dikenal, tapi kehidupannya seperti
kehidupan Al-Hallaj, karena sering mengalami jadzbah. Namanya Syekh
(Kiyai) Hanafi. Beliau masih keturunan Rasulullah Saw dari garis Husein Ra.
Beliau mendapatkan Ijazah / Bai'at Thariqah langsung dari Rasulullah Saw
secara Yaqzhah wa Musyafahah (sadar dan
bersentuhan) sebagaimana yang dialami oleh Syekh Ahmad bin Idris al-Fasi dan
banyak Ulama Shufi lainnya. Sewaktu Beliau akan meninggal, Beliau didatangi
oleh Rasulullah Saw, sama seperti Syekh (Kiyai) Hamid Pasuruan yang sebelum
wafatnya didatangi Beliau Saw sehingga di akhir hayatnya Beliau memutuskan
untuk berhenti merokok. Nama Thariqah Syekh Hanafi ini bernama Thariqah
Al-Muhammadiyyah al-Khidhiriyyah, sama seperti Syekh Abdul Aziz ad-Dabbagh Ra,
pangarang Kitab Al-Ibriz dari Maghribi. Beliau wafat sekitar
40 tahunan.
Banyak
Wali-wali tersembunyi, yang banyak orang tidak tahu. Semuanya memiliki martabat
(tingkatan) dan kekhususan. Sehingga banyak orang lebih mengetahui Wali yang
masyhur daripada mengetahui Wali Khas yang derajatnya ditinggikan oleh Allah
pada masanya dibanding lainnya. Bahkan seorang Sulthan Awliya masyhur, Syekh
Quthbur Rabbani Abdul Qadir al-Jaelani Qaddasalahu Sirrahul
'Aziz, pada masa hidupnya tidak dikenal sebagai seorang Awliya. Baru
setelah 25 tahun terbuka hijab (dinding penutup) akan kewaliannya.
Syekh
Abdus Salam bin Masyisy Ra. adalah seorang Wali Mursyid yang tidak dikenal pada
masanya. Tapi setelah ditemukan di atas bukit oleh muridnya, yakni Syekh Ali
Abul Hasan asy-Syadzili (pendiri Thariqah Syadziliyyah), barulah terkuak
keberadaan dan kebesaran Awliya-nya di tengah umat. Masyhur atau tidak,
bukanlah tujuan bagi seorang Awliya. Semua terhitung dalam genggaman Kehendak
dan takdir-Nya
jadzab adalah keadaan kesadaran yang mengalami perubahan
yang bersifat tidak permanen. Jadzab adalah hal yang lumrah yang dialami oleh
beberapa wali (tidak semua wali mengalami jadzab). Jadzab ini mirip keadaan
kegilaan dimana perilakunya menjadi tidak lumrah, namun sangat berbeda dengan
gila yang bukan jadzab. Meski sama sama “gila” namun keadaan wali ini apa yang
dilakukan adalah “kebenaran” yang tidak terpikirkan oleh orang lain sehingga
bagi beliau benar bagi orang lain yang berpikir tidak sampai sejauh wali tersebut
menganggap bahwa perilakunya adalah jadzab.
Jadab ini tidak permanen artinya jadzab hanya berlaku
sementara, kalau permanen malah dipertanyakan, ada kisah putra dari kyai di
jogja sejak kecil mengalami gangguan perkembangan sehingga sejak kecil hingga
beliau sekarang sudah usia 60an dianggapnya jadzab, ini adalah anggapan yang
keliru karena dia mengalami gangguan perkembangan. Nah yang dianggap jadzab itu
adalah jika terjadi setelah seseorang mengalami pengalaman spiritual yang
sangat dalam yang dapat berpengaruh pada dirinya, sehingga membuat keadaan
kesadaran berubah, nah jadzab adalah proses dimana terjadi adaptasi antara
keadaran yang berubah ini dengan keadaan alam sekitar.
Kita harus paham benar dengan hal ini, sebab banyak
sekali orang yang berdzikir dengan tekun kemudian berperilaku aneh….. tapi
perilaku anehnya kok tidak berubah ubah.. nah bisa dipastikan bahwa dia
mengamali gangguan jiwa atau (gila beneran).
dan jangan mudah mempercayai orang yang “gila” sebab bisa
jadi dia “menggilakan diri” agar dianggap jadzab, dan dianggap wali yang sedang
jadzab. Kalau hemat saya jika ada yang jadzab sebaiknya jangan diminta tolong …
justru kita doakan agar jadzabnya  segera usai. kalau berguru juga jangan
kepada oranng yang jadzab pasti nanti ikut ikutan “jadzab” ..tapi tentunya
jadzabnya lain…
TOKOH : KH. Zaeinuddin Mojosari Wali Mastur
Mbah KH. Zainuddin adalah ulama besar
Nusantara yang “paling tidak terekspose” bila dibanding dengan ulama-ulama
seangkatannya semisal Syekh Nawawi al-Bantaniy, Syekh Sholeh Darat (guru
beliau), Syekh Kholil Bangkalan, KH. Dimyathi Tremas Pacitan, Syekh Asnawi
Kudus.
KH. Zainuddin merupakan pengasuh
Pondok Pesantren Mojosari, Loceret, Nganjuk, Jawa Timur generasi ke 7. Pondok
Pesantren Mojosari didirikan pada tahun 1720 M oleh Mbah Kyai Ali Imron,
Bendungan.
Ketika dulu para santri masih
menggunakan sitem rihlah (kelana), maka Mbah Kiyai Zainuddin adalah salah satu
ulama “wajib” yang dituju para santri pada zaman itu dalam rangka
menyempurnakan keilmuan para santri. Dari segi usia memang beliau paling muda
dengan teman seangkatannya namun beliau yang paling akhir meninggal dunia
(menurut keterangan salah satu santrinya wafat beliau tahun 1954).
Beliau menempati sebuah pondok tua
yaitu di Mojosari Loceret Nganjuk. Mungkin karena secara geografis berada di
kaki gunung Wilis, maka beliau “tidak banyak diekspose” dibanding
sahabat-sahabatnya, karena memang dalam sejarahnya beliau cenderung bergerak
dalam keilmuan tasawwuf.
Beliau dikenal oleh masyarakat sebagai
waliyullah, namun aktivitas sehari-harinya tak beda dengan petani-petani desa
yang bersahaja, karamahnya tak pernah dibuat pameran. Bahkan beliau lebih nampak
sebagai seorang ulama syari’ah yang kokoh, tugas-tugasnya dijalankan dengan
disiplin dan istiqamah. Setelah selesai mengajar di malam hari, sekitar pukul
22.00 beliau istirahat dan bangun jam 02.00 akhir malam, beliau menjalankan
tahajjud, tilawah al-Quran dan lain-lain, mendekatkan diri kepada Allah SWT
sampai menjelang Shubuh.
Kiai Zainuddin tidak hanya pandai
menganjurkan sunnah Rasul, tetapi beliau praktekkan sendiri dalam kehidupan,
sesuai dengan nasihat yang sering disampaikannya kepada para santri: “Co, ojo
lali karo ayat
أَتَأْمُرُوْنَ
النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ
“Apakah
kamu perintah orang lain untuk berbuat baik, padahal kamu melupakan dirimu
sendiri?”
Syariat Islam dijalankannya dengan
nyata dan konsekuen. Untuk keperluan hidup sehari-hari beliau mengolah tanah
pertanian secukupnya. Beliau sendiri sering memegang pacul (cangkul) menanam
singkong, jagung atau pisang. Beliau tidak menunjukkan tingkah khariqul ‘adah
di hadapan masyarakat. Akan tetapi sepandai-pandai menyimpan durian, tercium
juga baunya. Begitu juga halnya Kyai Zainuddin, banyak ulama arif mengakui
kewaliannya.
Syahdan pada suatu hari, seperti
biasanya pesantren di bulan Sya’ban selalu mengadakan imtihan (selametan)
pengajian pondok di akhir tahun. Pada waktu itu beliau bersama-sama pengurus
pondok dan tokoh-tokoh kampung Mojosari berkumpul mengadakan musyawarah untuk
gawe besar ini. Disepakati perayaan imtihan dilakukan semeriah mungkin dan
dilakukan beberapa hari baik melibatkan pondok maupun masyarakat Mojosari. Akhirnya
ada sebagian masyarakat yang mengusulkan diadakan kesenian rakyat yaitu
“JARANAN”, dan beliau mbah Kyai Zainuddin mengiyakan dengan syarat dilakukan di
awal dan di luar pondok (di kampung). Maka bersemangatlah masyarakat Mojosari
(saat itu masyarakat Mojosari 90% masih abangan dan terkenal sebagai tempatnya
maksiyat).
Berhari-hari masyarakat Mojosari dan
pondok dalam suasana gembira. Rupanya hal ini terdengar sampai jauh di luar
Nganjuk. Terbukti para Kyai menyikapi insiden tersebut karena melihat bahwa
Mbah Kyai Zainuddin adalah salah satu tokoh ulama yang paling disegani. Mereka
para Kyai takut hal ini akan berdampak pada masyarakat santri pada waktu itu.
Akhirnya Hadhratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari, KH. Abdul Wahab Chasbullah, KH.
Bisyri Sansuri dan para Kyai lain bermusyawarah melakukan sikap dan meminta
pada Mbah Kyai Zainuddin untuk bersikap tegas dengan adanya “JARANAN” masuk
dalam kegiatan Imtihan. Mereka para Kyai akhirnya tidak menuai kesepakatan
siapa yang harus sowan menghadap kepada Mbah Kyai Zainuddin. Mereka tidak ada
yang berani menghadap mengingat mereka semua adalah murid dan santri beliau.
Karena semua Kyai tersebut tidak berani menghadap, akhirnya disepakati dengan
memakai mediator surat pernyataan dan ditandatangani oleh bersama.
Setelah selesai rapat musyawarah
pernyataan sikap, para Kyai pulang ke rumah masing-masing. Tempat musyawarah
waktu itu dilaksanakan di Tebuireng. Saat Hadhratus Syekh KH. Hasyim
Asy’ari istirahat, di dalam istirahat itu beliau diingatkan Allah SWT. lewat mimpi,
dimana dalam mimpi itu KH. Hasyim Asy’ari dan para ulama seluruh Nusantara
mengadakan shalat jama’ah. Dan ternyata dalam shalat jam’aah para ulama itu
yang menjadi Imam adalah Mbah Kiyai Zainuddin. Sedangkan beliau Hadhratus Syekh
KH. Hasyim Asy’ari berada pada barisan shof nomer 7.
Setelah terbangun, surat yang tadi
sudah jadi dengan tanda tangan yang lengkap dan tinggal dikirim akhirnya tidak
jadi disampaikan kepada Mbah Kiyai Zainuddin. Lantas KH. Hasyim Asy’ari
mengabari perihal mimpinya tersebut kepada para Kyai yang ikut menandatangani
surat pernyataan di atas. Mereka semua akhirnya sepakat bahwa itu bukan wilayah
mereka ngurusi (ikut campur) urusan guru mereka.
Berkat
karamah yang dimiliki Mbah Kyai Zainuddin tersebut, terbukti sekarang masyarakat
Mojosari Nganjuk yang tadinya 90 % abangan menjadi 99% Islam dan ta’at.
Ketenaran
nama Kyai Zainuddin ternyata membawa dampak lain. Sehubungan dengan kewaliannya
itulah, banyak orang datang mohon ijazah doa. Namun beliau tetap mengaku tidak
punya doa khusus dan memang seperti itulah yang dapat disaksikan, beliau bukan
ahli thariqah. Bila ada orang yang datang minta ijazah doa beliau spontan
menjawab: “Enggih, sampun kulo ijazahi” (Iya, sudah saya ijazahkan). Entahlah
apakah memang benar sudah atau belum, Wallahu a’lam bishshawab
WALI
MASTUR
Wali Mastur
Dikisahkan bahwa suatu malam Sultan
Murod Ar-Rabi` mengalami kegundahan yang sangat, dan dia tidak mengetahui
sebabnya.
Maka Sang Sultan memanggil kepala penjaga/sipir dan memberitahukan tentang keadaannya yang sedang gundah,
Dan memang merupakan kebiasaan Sultan bahwa dia sering memeriksa keadaan masyarakat/rakyatnya secara sembunyi-sembunyi.
Maka Sultan berkata kepada Kepala Sipir : Mari kita keluar, jalan-jalan di antara penduduk (guna memeriksa dan memantau keadaan mereka).
Mereka pun berjalan hingga sampailah di sebuah penghujung desa, dan Sultan melihat seorang pria tergeletak di atas tanah.
Sultan menggerak-gerakkannya (untuk memeriksa) dan ternyata pria tersebut telah tewas.
Namun anehnya orang-orang yang melintasi dan berlalu lalang di sekitarnya tidak memperdulikannya.
Maka Sultan pun memanggil mereka, (tapi mereka tidak mengenali Sang Sultan),
Mereka berseru : Ada apa?
Sultan : Kenapa pria ini tewas dan tidak seorangpun yang membawanya? Siapa dia? Dan dimana keluarganya?
Mereka berujar : Ini orang zindiq, suka minum khomar, pezina.
Sultan menimpali : Namun bukankah dia dari golongan umat Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam?
Ayo bawa dia ke rumah keluarganya.
Maka mereka pun membawanya.
Ketika sampai di rumah, istrinya pun melihatnya dan langsung menangis.
Dan orang-orangpun mulai beranjak pergi, kecuali Sang Sultan dan Kepala Sipir.
Di tengah tangisan si wanita (istri si mayit), dia berseru kepada Sultan (namun wanita tersebut tidak mengenalinya) : Semoga Allah merahmatimu wahai wali Allah, aku bersaksi bahwa engkau sungguh wali Allah.
Maka terheranlah Sultan Murod dengan ucapan wanita tersebut, dan berkata : Bagaimana mungkin aku termasuk wali Allah sementara orang-orang berkata buruk terhadap si mayyit, hingga mereka enggan mengurusi mayatnya.
(Sultan merasa heran, bagaimana mungkin seorang zindiq ditolong oleh wali Allah)
Wanita pun menjawab : Aku sudah duga hal itu,
Sungguh suamiku setiap malam pergi ke penjual arak/khomr lantas membeli seberapa banyak yang dia bisa beli, kemudian membawanya ke rumah kami dan menumpahkan seluruh khomr ke toilet, dan dia (suami) berkata : Semoga aku bisa meringankan keburukan khomr dari kaum muslimin.
Suamiku juga selalu pergi kepada para zaniah/pelacur dan memberinya uang, dan berkata : malam ini kau ku bayar dan jangan kau buka pintu rumahmu (untuk melacur) hingga pagi,
Kemudian suamiku kembali ke rumah dan berujar : Alhamdu lillah, semoga dengan itu aku bisa meringankan keburukannya ( pelacur) dari pemuda-pemuda muslim malam ini.
Namun sementara orang-orang menyaksikan dan mengetahui bahwa suamiku membeli khomr, dan masuk ke rumah pelacur,
Dan lantas mereka membicarakan suamiku dengan keburukan.
Pernah suatu hari aku berkata pada suamiku : Sungguh jika seandainya engkau mati, maka tidak akan ada orang yang akan memandikanmu, menyolatkanmu, dan menguburkanmu.
Suamikupun tersenyum dan menjawab : Jangan khawatir Sayangku... Sultan/Pemimpin kaum muslimin lah yang akan menyolatkanku beserta para ulama dan pembesar-pembesar negeri lainnya.
(Setelah mendengarnya) Sultan pun menangis lantas berkata : Suamimu benar,
Demi Allah aku adalah Sultan Murod Ar-Robi`,
Dan besok kami akan memandikan suamimu, menyolatkannya dan menguburkannya.
Dan diantara yang menyaksikan jenazahnya adalah Sultan Murod, para ulama, para masyayikh dan seluruh penduduk kota.
Maha Suci Allah, kita hanya bisa menilai orang dengan hanya melihat penampilan dan kulit luarnya dan kita pula hanya mendengar omongan orang.
Maka sendainya jika kita mampu bijak, kita akan memandang dan menilai orang dari kebersihan hatinya,
Maka niscaya lisan kita akan kelu membisu dari menceritakan keburukan orang lain..
Subhanallah....
*Sultan Murad IV adalah Sultan Khilafah Utsmaniyah ke-7 (1623-1640)
#KHAhmadFahrurRozi
Maka Sang Sultan memanggil kepala penjaga/sipir dan memberitahukan tentang keadaannya yang sedang gundah,
Dan memang merupakan kebiasaan Sultan bahwa dia sering memeriksa keadaan masyarakat/rakyatnya secara sembunyi-sembunyi.
Maka Sultan berkata kepada Kepala Sipir : Mari kita keluar, jalan-jalan di antara penduduk (guna memeriksa dan memantau keadaan mereka).
Mereka pun berjalan hingga sampailah di sebuah penghujung desa, dan Sultan melihat seorang pria tergeletak di atas tanah.
Sultan menggerak-gerakkannya (untuk memeriksa) dan ternyata pria tersebut telah tewas.
Namun anehnya orang-orang yang melintasi dan berlalu lalang di sekitarnya tidak memperdulikannya.
Maka Sultan pun memanggil mereka, (tapi mereka tidak mengenali Sang Sultan),
Mereka berseru : Ada apa?
Sultan : Kenapa pria ini tewas dan tidak seorangpun yang membawanya? Siapa dia? Dan dimana keluarganya?
Mereka berujar : Ini orang zindiq, suka minum khomar, pezina.
Sultan menimpali : Namun bukankah dia dari golongan umat Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam?
Ayo bawa dia ke rumah keluarganya.
Maka mereka pun membawanya.
Ketika sampai di rumah, istrinya pun melihatnya dan langsung menangis.
Dan orang-orangpun mulai beranjak pergi, kecuali Sang Sultan dan Kepala Sipir.
Di tengah tangisan si wanita (istri si mayit), dia berseru kepada Sultan (namun wanita tersebut tidak mengenalinya) : Semoga Allah merahmatimu wahai wali Allah, aku bersaksi bahwa engkau sungguh wali Allah.
Maka terheranlah Sultan Murod dengan ucapan wanita tersebut, dan berkata : Bagaimana mungkin aku termasuk wali Allah sementara orang-orang berkata buruk terhadap si mayyit, hingga mereka enggan mengurusi mayatnya.
(Sultan merasa heran, bagaimana mungkin seorang zindiq ditolong oleh wali Allah)
Wanita pun menjawab : Aku sudah duga hal itu,
Sungguh suamiku setiap malam pergi ke penjual arak/khomr lantas membeli seberapa banyak yang dia bisa beli, kemudian membawanya ke rumah kami dan menumpahkan seluruh khomr ke toilet, dan dia (suami) berkata : Semoga aku bisa meringankan keburukan khomr dari kaum muslimin.
Suamiku juga selalu pergi kepada para zaniah/pelacur dan memberinya uang, dan berkata : malam ini kau ku bayar dan jangan kau buka pintu rumahmu (untuk melacur) hingga pagi,
Kemudian suamiku kembali ke rumah dan berujar : Alhamdu lillah, semoga dengan itu aku bisa meringankan keburukannya ( pelacur) dari pemuda-pemuda muslim malam ini.
Namun sementara orang-orang menyaksikan dan mengetahui bahwa suamiku membeli khomr, dan masuk ke rumah pelacur,
Dan lantas mereka membicarakan suamiku dengan keburukan.
Pernah suatu hari aku berkata pada suamiku : Sungguh jika seandainya engkau mati, maka tidak akan ada orang yang akan memandikanmu, menyolatkanmu, dan menguburkanmu.
Suamikupun tersenyum dan menjawab : Jangan khawatir Sayangku... Sultan/Pemimpin kaum muslimin lah yang akan menyolatkanku beserta para ulama dan pembesar-pembesar negeri lainnya.
(Setelah mendengarnya) Sultan pun menangis lantas berkata : Suamimu benar,
Demi Allah aku adalah Sultan Murod Ar-Robi`,
Dan besok kami akan memandikan suamimu, menyolatkannya dan menguburkannya.
Dan diantara yang menyaksikan jenazahnya adalah Sultan Murod, para ulama, para masyayikh dan seluruh penduduk kota.
Maha Suci Allah, kita hanya bisa menilai orang dengan hanya melihat penampilan dan kulit luarnya dan kita pula hanya mendengar omongan orang.
Maka sendainya jika kita mampu bijak, kita akan memandang dan menilai orang dari kebersihan hatinya,
Maka niscaya lisan kita akan kelu membisu dari menceritakan keburukan orang lain..
Subhanallah....
*Sultan Murad IV adalah Sultan Khilafah Utsmaniyah ke-7 (1623-1640)
#KHAhmadFahrurRozi
KEUTAMAAN-KEUTAMAAN SAYYIDINA AL-FAQIH RA
Sayyidina
Al-Faqih Al-Muqaddam Ra mempunyai Thakhshish Maziyyah Wal Fadhail yaitu
berbagai keistimewaan-keistimewaan khusus yang diberikan Allah Jalla Wa’ala
kepada beliau selaku Khawas Al-Khawas “Maqam kewilayahan” yang diberikan Allah
SWT kepada beliau telah menjadi satu fenomena yang menakjubkan dalam Analisa
para Wali pada zamannya. Para kaum Al-Arifin berkata:
”Sungguh telah membuat tercengang dan kagum para pemuka kaum Sufi dan para Wali pada zamannya akan Ahwal-nya As-Syech Al-Faqih, dan mereka semua tidak bisa menafsirkannya dengan penafsiran yang sempurna dikarenakan melampaui pengetahuan mereka”
Diceritakan bahwa As-Syech Al-Kabir Ibrahim bin Yahya Bafadhal didorong oleh rasa penasaran beliau, berkeinginan menemui As-Syech Abu Al-Ghayst Ibnu Jamil untuk menanyakan keadaan (hal) tiga orang yang pada saat itu mulai dikenal dikalangan masyarakat Hadhramaut, yaitu Sayyidina Al-Faqih, As-Syech Abdullah bin Ibrahim Baqusyair dan satu orang lagi yang tidak diketahui namanya, As-Syech Ibrahim sengaja pergi menemui As-Syech Abu Al-Ghayst hanya untuk menanyakan perihal tiga orang ini, ketika beliau telah sampai di Majlis As-Syech Abu Al-Ghayst, beliau duduk dibelakang, As-Syech Ibrahim menceritakan sendiri pertemuan beliau dengan As-Syech Al-Wali Ibn Al-Jamil,cerita beliau;
”Ketika aku telah sampai akupun duduk dibelakang, dan tanpa kusadari aku bergumam didalam hati;
”Sungguh tidaklah aku datang dari Hadhramaut
kesini hanyalah semata-mata untuk menanyakan perihal tiga orang ini”
maka belumlah habis aku berkata didalam hati,As-Syech Abu Al-Ghayst telah mengetahui tujuan kedatanganku,
beliau berdiri dan berkata:
”Siapakah diantara yang hadir bernama As-Syech Ibrahim?”,
lalu akupun mendatanginya
dengan ketajaman Firasah dan Kekasyafan beliau, As-Syech Abu Al-Ghayst memberitahukan apa yang ingin Syech Ibrahim Bafadhal tanyakan;
”Wahai Syech Ibrahim sesungguhnya engkau mendatangiku untuk menanyakan perihal As-Syech Muhammad bin Ali bukan?, As-Syech Abdullah Baqusyair dan lelaki yang tidak dikenal namanya?
As-Syech Ibrahim menjawab:
”Benar”
As-Syech Abu Al-Ghayst meneruskan
“Aku akan menjelaskan kepadamu perihal mereka bertiga, yang pertama (yaitu Sayyidina Al-Faqih Ra), tidaklah golongan kami (para Sufi dan Wali) dapat mencapai derajat beliau walaupun hanya setengahnya, adapun As-Syech Abdullah bin Ibrahim Baqusyair adalah seorang yang Sholeh, adapun orang yang satunya lagi adalah orang yang kupandang tidak mempunyai kelakuan yang baik”
Diriwayatkan bahwa As-Syech Alwi anak Sayyidina Al-Faqih Ra bertamu kepada As-Syech Ahmad bin Al-Ja’ad Ra, As-Syech Ahmad berkata kepada As-Syech Alwi:
”Apakah engkau “Alwi” yang sering disebut-sebut orang itu?”
jawab As-Syech Alwi:
”Benar aku adalah Alwi dan semoga aku dilindungi oleh Allah SWT dari jahatntya pengaruh omongan orang”
As-Syech Ahmad bertanya lagi kepada As-Syech Alwi:
”Bagaimana pendapatmu tentang Maqam Ayahmu Sayyidina Al-Faqih Ra?”
dijawab oleh As-Syech Alwi:
”Aku telah mengetahui keagungan Maqam ayahku tapi sulit bagiku untuk menjabarkannya”
Dalam satu kesempatan seorang Wali yang utama pada zamannya yaitu As-Syech Sufyan Al-Yamani berkunjung ke Tarim untuk berziarah kepada Nabi Allah Hud As dan kaum Sholihin yang berada disana, sekaligus untuk bertemu dengan Sayyidna Al-Faqih, lalu bertemulah beliau dengan Sayyidina Al-Faqih, Sayyidina Al-Faqih dalam kesempatan tersebut bertanya banyak kepada As-Syech Sufyan, mengenai masalah-masalah Ma’nawiyah di dalam Suluk, As-Syech Sufyan menjawab setiap pertanyaan beliau.Dalam pertemuan ini telah menghasilkan Takdib, Tahzib, dan Taqrib serta Ziyadah dan Faidah bagi beliau, kemudian setelah itu pulanglah As-Syech Sufyan ke Yaman, dan meninggalkan kesan yang mendalam kepada Sayyidina Al-Faqih Ra, dan hati beliau masih dipenuhi oleh banyaknya pertanyaan yang belum sempat beliau utarakan, dari permasalahan Tauhid dan Haqeqat, beliaupun meneruskan pertanyaan beliau melalui koresponden (surat menyurat) kepada Syech Sufyan, yang akhirnya membuat As-Syech Sufyan kewalahan dan akhirnya beliau menjawab;
”Sungguh kami tidak mengetahui jawaban dari pertanyaanmu, karena sudah melampaui kemampuan kami”, dari jawaban As-Syech Sufyan tersebut sudah jelas diketahui bahwa memang Maqam serta Ahwal-nya Sayyidina Al-Faqih Ra diakui oleh para Wali di zaman itu sudah melampaui mereka. Surat-surat Sayyidina Al-Faqih Ra masih disimpan sampai sekarang, selain surat menyurat kepada As-Syech Sufyan, Sayyidina Al-Faqih Ra juga berkirim surat kepada As-Syech Taj Al-Arifin Wama’din As-Shodiqin Sa’ad bin Ali Az-Zhofary (wafat di kota Syihr tahun 607 H). Surat Sayyidina Al-Faqih kepada As-Syech Sa’ad Az-Zhofary terdiri dari dua risalah yang terkumpul padanya rahasia ilmu-ilmu Kasyaf Ar-Robbany dan mengandung rahasia-rahasia Ma’nawy yang pelik dan tersembunyi,.Dengan beliau ini Sayyidina Al-Faqih banyak menanyakan Ahwal beliau yang sangat luar biasa, terkadang bagi As-Syech Sa’ad hal yang ditanyakan oleh Sayyidina Al-Faqih sangatlah sulit untuk di terima,walaupun keluarbiasaan (Khawariq Al-Adah) tersebut benar-benar terjadi pada diri Sayyidina Al-Faqih,dan Khawariq Al-Adah adalah sesuatu yang sudah lazim terjadi dikalangan para Wali, tetapi yang terjadi pada diri Sayyidina Al-Faqih sudah melampaui batas tertinggi Ahwalnya para Wali pada zaman itu;salah satunya yang diceritakan oleh Sayyidina Al-Faqih Ra kepada As-Syech Sa’ad bin Ali Az-Zhofary adalah bahwa beliau mi’raj kelangit ke Sidrah Al-Muntaha sebanyak tujuh kali dalam satu malam sampai dua puluh lima kali.
Karena berbagai keistimewaan beliau maka tak salah kalau para pecinta beliau menggubah sebuah syair, yang mengisyaratkan kedudukan Maqam beliau :
“Beliau adalah penghulu bagi seluruh wali sesudah beliau keutamaan beliau tidak diragukan lagi sebagai Khatam Al-Awliya”.
Yang dimaksud dengan kata-kata;“Khatam Al-Awliya’” atau penutup para wali dalam syi’ir diatas bahwa beliau Sayyidina Al-Faqih Ra merupakan pemuka para Wali-wali Allah Jalla Wa’ala sebagaimana kakek beliau Baginda Rasul Allah SAW sebagai penghulu bagi seluruh Nabi dan Rasul, hal ini di-tashihkan oleh Sayyidina Al-Imam Al-Habib Abdurrahman As-Segaff dari Qoul Sayyidina Al-Faqih:
“ Aku diantara para wali, seumpama Nabi Muhammad diantara para Nabi.”
Maqam “Qutb Al-Ghauts Al-Kubra” yang disandang Sayyidina Al-Faqih dalam dunia “Kewalian” seumpama “Kaisar” dalam imperium Romawi dan “Kisra” dalam imperium Persia .
Salah satu guru Sayyidina Al-Faqih Ra yaitu Al-Imam As-Syech Ali bin Ahmad Bamarwan berkomentar;
”Sesungguhnya engkau (Sayyidina Al-Faqih) telah mencapai satu derajat Imamah (kepemimpinan para wali) yang agung”
Dan berkata Al-Imam Al-Qutb Al-Ghauts Al-Habib Abdurrahman As-Segaff;
“Al-Imam Al-Faqih Muqaddam telah mencapai derajat Qutb selama waktu yang panjang”.
Dan telah berkomentar As-Syech Al-Arif Bahrul Ulum Wal Ma’arif Umar bin Salim bin Abu Qarah Ra.;
”Sungguh aku telah mengukur dan menimbang seluruh Maqam para Awliya’ pada zamanku kecuali Maqam Sayyidina Al-Faqih Ra. Yang tidak bisa kuukur karena Maqam beliau melampaui pengetahuanku”.
Lebih lanjut Al-Imam Al-Haddad menyiratkan Maqam Sayyidina Al-Faqih Ra dalam Syi’ir beliau;
“ Awalnya Maqam beliau (Sayyidina Al-Faqih) adalah Puncak dari seluruh Maqam yang bisa dicapai oleh para Wali pada zamannya,maka pikirkanlah bagaimanakah tingginya”
Dari As-Syech Al-Kabir Al-Arif Bahr Al-Ulum Al-Ma’arif Abi Al-‘Abbas Fadl bin Abdullah bin Abi Fadl Ra,beliau berkata;
”Banyak dari manusia mereka telah banyak mendapatkan dari Sayidina Al-Faqih Ra Keberkahan dan kebaikan yang banyak, dan yang paling banyak yang telah mendapatkan Keberkahan tersebut diantaranya adalah; As-Syaikhan Al-Kabiyraan (Dua Syech yang besar), Al-Arifan billah Ta’ala As-Syahiran, As-Syech Abdullah bin Muhammad Abu Ibad dan As-Syech Sa’Id bin Umar bin Lihaf, dua Syech ini dididik oleh Sayidina Al-Faqih Ra.
Diriwayatkan bahwa pernah disebutkan di depan Sayidina Al-Faqih Ra oleh beberapa murid beliau nama dan Kisah beberapa orang Wali besar, seperti As-Syech Agil Al-Munhiy, As-Syech Ma’ruf Al-Karakhiy, As-Syech Abdul Qadir Al-Jailany, serta As-Syech Hayah bin Qays Al-Harany, maka berkata Sayyidna Al-Faqih Ra;
”Tidak ada Seorangpun diantara mereka yang bisa menyamaiku”
Antara Sayyidina Al-Faqih Ra,As-Syech Abu Madyan Ra,dan As-Syech Abdul Qadir Al-Jailany Ra
Menurut Al-Imam Al-Habib Muhammad bin Husin Al-Habsyi dalam Kitab beliau; “Al-‘Uqud Al-Lukluiyah” beliau mengatakan:
”Sesungguhnya kepemimpinan para Wali diserahkan dari As-Syech Abdul Qadir Al-Jailaniy kepada As-Syech Abu Madyan Syu’aib Al-Maghriby yang akhirnya Diserahkan kepada Sayyidina Al-Faqih Al-MuqaddamRa”
Sebagian para pemuka Tasawwuf berpendapat bahwa As-Syech Abdul Qadir Al-Jailany adalah pemimpin para Wali Masyhur sedangkan Sulthan para Wali Mastur adalah Al-Faqih Al-Muqaddam, sedangkan perbandingan jarak derajat masyhur dan mastur tersirat dalam satu Qoul Tasawwuf.
“Sesungguhnya sudah beberapa banyak orang telah masyhur menjadi para wali hanya karena berkah dari satu wali mastur”.
Telah ditanya Al-Imam Al-Haddad Ra (ShohibAr-Ratib) oleh kalangan Ulama’ mengenai Al-Imam Al-Qutb Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali dan Al-Imam Al-Qutb Ar-Rabbany As-Syech Abdul Qadir Al-Jailany yang manakah diantara mereka yang lebih utama?.Beliau berkomentar:
“Sesungguhnya mereka berdua adalah tokoh besar kaum sufi dan wali yang agung akan tetapi kami (Bani Alawi) bernisbah dan mendapatkan barokah dan Al-Madad dari penghulu kami Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali lebih besar”.
Sekali waktu As-Syech Muhammad bin Abdullah bin Abu Alwi Al-Makanniy bermujadalah dengan dengan ayahnya, mengenai maqam As-Syech Abdul Qadir Al-Jailany dan maqam Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam, yang manakah diantara mereka yang lebih tinggi, As-Syech Muhammad bersikukuh mengatakan bahwa maqam Sayyidina Al-Faqih lah yang lebih tinggi dari As-Syech Abdul Qadir Al-Jailany , sedangkan ayahnya mengatakan sebaliknya, akhirnya perselisihan mereka ini ditanyakan kepada Sayyidina Al-Qutb Al-Ghauts Al-Habib Abdurrahman As-Segaff, beliau berkata:
”Tidaklah kami memuliakan seorang Wali pun diatas Sayyidina Al-Faqih Ra, dan setiap maqam Wali itu berubah sesudah wafatnya kecuali maqam Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali Ra”
As-Syech Muhyidin Ibn Al-Araby di dalam kitabnya Al-Futuhat mengatakan:
“Syech kami; Abu Madyan di Maghrib (penjuru Barat) dan As-Syech Abdul Qadir Al-Jailany di Masyriq (penjuru Timur), di dalam memberikan wejangan-wejangan bagi para murid dari kaum Thariqoh dan membimbing makhluk ke jalan Allah”.
Dari Tarbiyah As-Syech Abu Madyan sendiri telah menghasilkan para wali dalam jumlah seribu orang. Menurut As-Syech Abdullah bin As’ad Al-Yafi’iy Ra sebagian ulama’-ulama’ Tasawwuf dari Yaman Ilmu Thariqah mereka bernisbah kepada As-Syech Al-Kabir Al-Arifbillah Abu Madyan Syu’aib Al-Maghribi, kalau Abu Madyan Al-Maghribi adalah Imam para wali dan sufi di penjuru Barat sedangkan As-Syech Abdul Qodir jaelany Imam para wali dan sufi di penjuru Timur.
”Sungguh telah membuat tercengang dan kagum para pemuka kaum Sufi dan para Wali pada zamannya akan Ahwal-nya As-Syech Al-Faqih, dan mereka semua tidak bisa menafsirkannya dengan penafsiran yang sempurna dikarenakan melampaui pengetahuan mereka”
Diceritakan bahwa As-Syech Al-Kabir Ibrahim bin Yahya Bafadhal didorong oleh rasa penasaran beliau, berkeinginan menemui As-Syech Abu Al-Ghayst Ibnu Jamil untuk menanyakan keadaan (hal) tiga orang yang pada saat itu mulai dikenal dikalangan masyarakat Hadhramaut, yaitu Sayyidina Al-Faqih, As-Syech Abdullah bin Ibrahim Baqusyair dan satu orang lagi yang tidak diketahui namanya, As-Syech Ibrahim sengaja pergi menemui As-Syech Abu Al-Ghayst hanya untuk menanyakan perihal tiga orang ini, ketika beliau telah sampai di Majlis As-Syech Abu Al-Ghayst, beliau duduk dibelakang, As-Syech Ibrahim menceritakan sendiri pertemuan beliau dengan As-Syech Al-Wali Ibn Al-Jamil,cerita beliau;
”Ketika aku telah sampai akupun duduk dibelakang, dan tanpa kusadari aku bergumam didalam hati;
”Sungguh tidaklah aku datang dari Hadhramaut
kesini hanyalah semata-mata untuk menanyakan perihal tiga orang ini”
maka belumlah habis aku berkata didalam hati,As-Syech Abu Al-Ghayst telah mengetahui tujuan kedatanganku,
beliau berdiri dan berkata:
”Siapakah diantara yang hadir bernama As-Syech Ibrahim?”,
lalu akupun mendatanginya
dengan ketajaman Firasah dan Kekasyafan beliau, As-Syech Abu Al-Ghayst memberitahukan apa yang ingin Syech Ibrahim Bafadhal tanyakan;
”Wahai Syech Ibrahim sesungguhnya engkau mendatangiku untuk menanyakan perihal As-Syech Muhammad bin Ali bukan?, As-Syech Abdullah Baqusyair dan lelaki yang tidak dikenal namanya?
As-Syech Ibrahim menjawab:
”Benar”
As-Syech Abu Al-Ghayst meneruskan
“Aku akan menjelaskan kepadamu perihal mereka bertiga, yang pertama (yaitu Sayyidina Al-Faqih Ra), tidaklah golongan kami (para Sufi dan Wali) dapat mencapai derajat beliau walaupun hanya setengahnya, adapun As-Syech Abdullah bin Ibrahim Baqusyair adalah seorang yang Sholeh, adapun orang yang satunya lagi adalah orang yang kupandang tidak mempunyai kelakuan yang baik”
Diriwayatkan bahwa As-Syech Alwi anak Sayyidina Al-Faqih Ra bertamu kepada As-Syech Ahmad bin Al-Ja’ad Ra, As-Syech Ahmad berkata kepada As-Syech Alwi:
”Apakah engkau “Alwi” yang sering disebut-sebut orang itu?”
jawab As-Syech Alwi:
”Benar aku adalah Alwi dan semoga aku dilindungi oleh Allah SWT dari jahatntya pengaruh omongan orang”
As-Syech Ahmad bertanya lagi kepada As-Syech Alwi:
”Bagaimana pendapatmu tentang Maqam Ayahmu Sayyidina Al-Faqih Ra?”
dijawab oleh As-Syech Alwi:
”Aku telah mengetahui keagungan Maqam ayahku tapi sulit bagiku untuk menjabarkannya”
Dalam satu kesempatan seorang Wali yang utama pada zamannya yaitu As-Syech Sufyan Al-Yamani berkunjung ke Tarim untuk berziarah kepada Nabi Allah Hud As dan kaum Sholihin yang berada disana, sekaligus untuk bertemu dengan Sayyidna Al-Faqih, lalu bertemulah beliau dengan Sayyidina Al-Faqih, Sayyidina Al-Faqih dalam kesempatan tersebut bertanya banyak kepada As-Syech Sufyan, mengenai masalah-masalah Ma’nawiyah di dalam Suluk, As-Syech Sufyan menjawab setiap pertanyaan beliau.Dalam pertemuan ini telah menghasilkan Takdib, Tahzib, dan Taqrib serta Ziyadah dan Faidah bagi beliau, kemudian setelah itu pulanglah As-Syech Sufyan ke Yaman, dan meninggalkan kesan yang mendalam kepada Sayyidina Al-Faqih Ra, dan hati beliau masih dipenuhi oleh banyaknya pertanyaan yang belum sempat beliau utarakan, dari permasalahan Tauhid dan Haqeqat, beliaupun meneruskan pertanyaan beliau melalui koresponden (surat menyurat) kepada Syech Sufyan, yang akhirnya membuat As-Syech Sufyan kewalahan dan akhirnya beliau menjawab;
”Sungguh kami tidak mengetahui jawaban dari pertanyaanmu, karena sudah melampaui kemampuan kami”, dari jawaban As-Syech Sufyan tersebut sudah jelas diketahui bahwa memang Maqam serta Ahwal-nya Sayyidina Al-Faqih Ra diakui oleh para Wali di zaman itu sudah melampaui mereka. Surat-surat Sayyidina Al-Faqih Ra masih disimpan sampai sekarang, selain surat menyurat kepada As-Syech Sufyan, Sayyidina Al-Faqih Ra juga berkirim surat kepada As-Syech Taj Al-Arifin Wama’din As-Shodiqin Sa’ad bin Ali Az-Zhofary (wafat di kota Syihr tahun 607 H). Surat Sayyidina Al-Faqih kepada As-Syech Sa’ad Az-Zhofary terdiri dari dua risalah yang terkumpul padanya rahasia ilmu-ilmu Kasyaf Ar-Robbany dan mengandung rahasia-rahasia Ma’nawy yang pelik dan tersembunyi,.Dengan beliau ini Sayyidina Al-Faqih banyak menanyakan Ahwal beliau yang sangat luar biasa, terkadang bagi As-Syech Sa’ad hal yang ditanyakan oleh Sayyidina Al-Faqih sangatlah sulit untuk di terima,walaupun keluarbiasaan (Khawariq Al-Adah) tersebut benar-benar terjadi pada diri Sayyidina Al-Faqih,dan Khawariq Al-Adah adalah sesuatu yang sudah lazim terjadi dikalangan para Wali, tetapi yang terjadi pada diri Sayyidina Al-Faqih sudah melampaui batas tertinggi Ahwalnya para Wali pada zaman itu;salah satunya yang diceritakan oleh Sayyidina Al-Faqih Ra kepada As-Syech Sa’ad bin Ali Az-Zhofary adalah bahwa beliau mi’raj kelangit ke Sidrah Al-Muntaha sebanyak tujuh kali dalam satu malam sampai dua puluh lima kali.
Karena berbagai keistimewaan beliau maka tak salah kalau para pecinta beliau menggubah sebuah syair, yang mengisyaratkan kedudukan Maqam beliau :
“Beliau adalah penghulu bagi seluruh wali sesudah beliau keutamaan beliau tidak diragukan lagi sebagai Khatam Al-Awliya”.
Yang dimaksud dengan kata-kata;“Khatam Al-Awliya’” atau penutup para wali dalam syi’ir diatas bahwa beliau Sayyidina Al-Faqih Ra merupakan pemuka para Wali-wali Allah Jalla Wa’ala sebagaimana kakek beliau Baginda Rasul Allah SAW sebagai penghulu bagi seluruh Nabi dan Rasul, hal ini di-tashihkan oleh Sayyidina Al-Imam Al-Habib Abdurrahman As-Segaff dari Qoul Sayyidina Al-Faqih:
“ Aku diantara para wali, seumpama Nabi Muhammad diantara para Nabi.”
Maqam “Qutb Al-Ghauts Al-Kubra” yang disandang Sayyidina Al-Faqih dalam dunia “Kewalian” seumpama “Kaisar” dalam imperium Romawi dan “Kisra” dalam imperium Persia .
Salah satu guru Sayyidina Al-Faqih Ra yaitu Al-Imam As-Syech Ali bin Ahmad Bamarwan berkomentar;
”Sesungguhnya engkau (Sayyidina Al-Faqih) telah mencapai satu derajat Imamah (kepemimpinan para wali) yang agung”
Dan berkata Al-Imam Al-Qutb Al-Ghauts Al-Habib Abdurrahman As-Segaff;
“Al-Imam Al-Faqih Muqaddam telah mencapai derajat Qutb selama waktu yang panjang”.
Dan telah berkomentar As-Syech Al-Arif Bahrul Ulum Wal Ma’arif Umar bin Salim bin Abu Qarah Ra.;
”Sungguh aku telah mengukur dan menimbang seluruh Maqam para Awliya’ pada zamanku kecuali Maqam Sayyidina Al-Faqih Ra. Yang tidak bisa kuukur karena Maqam beliau melampaui pengetahuanku”.
Lebih lanjut Al-Imam Al-Haddad menyiratkan Maqam Sayyidina Al-Faqih Ra dalam Syi’ir beliau;
“ Awalnya Maqam beliau (Sayyidina Al-Faqih) adalah Puncak dari seluruh Maqam yang bisa dicapai oleh para Wali pada zamannya,maka pikirkanlah bagaimanakah tingginya”
Dari As-Syech Al-Kabir Al-Arif Bahr Al-Ulum Al-Ma’arif Abi Al-‘Abbas Fadl bin Abdullah bin Abi Fadl Ra,beliau berkata;
”Banyak dari manusia mereka telah banyak mendapatkan dari Sayidina Al-Faqih Ra Keberkahan dan kebaikan yang banyak, dan yang paling banyak yang telah mendapatkan Keberkahan tersebut diantaranya adalah; As-Syaikhan Al-Kabiyraan (Dua Syech yang besar), Al-Arifan billah Ta’ala As-Syahiran, As-Syech Abdullah bin Muhammad Abu Ibad dan As-Syech Sa’Id bin Umar bin Lihaf, dua Syech ini dididik oleh Sayidina Al-Faqih Ra.
Diriwayatkan bahwa pernah disebutkan di depan Sayidina Al-Faqih Ra oleh beberapa murid beliau nama dan Kisah beberapa orang Wali besar, seperti As-Syech Agil Al-Munhiy, As-Syech Ma’ruf Al-Karakhiy, As-Syech Abdul Qadir Al-Jailany, serta As-Syech Hayah bin Qays Al-Harany, maka berkata Sayyidna Al-Faqih Ra;
”Tidak ada Seorangpun diantara mereka yang bisa menyamaiku”
Antara Sayyidina Al-Faqih Ra,As-Syech Abu Madyan Ra,dan As-Syech Abdul Qadir Al-Jailany Ra
Menurut Al-Imam Al-Habib Muhammad bin Husin Al-Habsyi dalam Kitab beliau; “Al-‘Uqud Al-Lukluiyah” beliau mengatakan:
”Sesungguhnya kepemimpinan para Wali diserahkan dari As-Syech Abdul Qadir Al-Jailaniy kepada As-Syech Abu Madyan Syu’aib Al-Maghriby yang akhirnya Diserahkan kepada Sayyidina Al-Faqih Al-MuqaddamRa”
Sebagian para pemuka Tasawwuf berpendapat bahwa As-Syech Abdul Qadir Al-Jailany adalah pemimpin para Wali Masyhur sedangkan Sulthan para Wali Mastur adalah Al-Faqih Al-Muqaddam, sedangkan perbandingan jarak derajat masyhur dan mastur tersirat dalam satu Qoul Tasawwuf.
“Sesungguhnya sudah beberapa banyak orang telah masyhur menjadi para wali hanya karena berkah dari satu wali mastur”.
Telah ditanya Al-Imam Al-Haddad Ra (ShohibAr-Ratib) oleh kalangan Ulama’ mengenai Al-Imam Al-Qutb Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali dan Al-Imam Al-Qutb Ar-Rabbany As-Syech Abdul Qadir Al-Jailany yang manakah diantara mereka yang lebih utama?.Beliau berkomentar:
“Sesungguhnya mereka berdua adalah tokoh besar kaum sufi dan wali yang agung akan tetapi kami (Bani Alawi) bernisbah dan mendapatkan barokah dan Al-Madad dari penghulu kami Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali lebih besar”.
Sekali waktu As-Syech Muhammad bin Abdullah bin Abu Alwi Al-Makanniy bermujadalah dengan dengan ayahnya, mengenai maqam As-Syech Abdul Qadir Al-Jailany dan maqam Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam, yang manakah diantara mereka yang lebih tinggi, As-Syech Muhammad bersikukuh mengatakan bahwa maqam Sayyidina Al-Faqih lah yang lebih tinggi dari As-Syech Abdul Qadir Al-Jailany , sedangkan ayahnya mengatakan sebaliknya, akhirnya perselisihan mereka ini ditanyakan kepada Sayyidina Al-Qutb Al-Ghauts Al-Habib Abdurrahman As-Segaff, beliau berkata:
”Tidaklah kami memuliakan seorang Wali pun diatas Sayyidina Al-Faqih Ra, dan setiap maqam Wali itu berubah sesudah wafatnya kecuali maqam Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali Ra”
As-Syech Muhyidin Ibn Al-Araby di dalam kitabnya Al-Futuhat mengatakan:
“Syech kami; Abu Madyan di Maghrib (penjuru Barat) dan As-Syech Abdul Qadir Al-Jailany di Masyriq (penjuru Timur), di dalam memberikan wejangan-wejangan bagi para murid dari kaum Thariqoh dan membimbing makhluk ke jalan Allah”.
Dari Tarbiyah As-Syech Abu Madyan sendiri telah menghasilkan para wali dalam jumlah seribu orang. Menurut As-Syech Abdullah bin As’ad Al-Yafi’iy Ra sebagian ulama’-ulama’ Tasawwuf dari Yaman Ilmu Thariqah mereka bernisbah kepada As-Syech Al-Kabir Al-Arifbillah Abu Madyan Syu’aib Al-Maghribi, kalau Abu Madyan Al-Maghribi adalah Imam para wali dan sufi di penjuru Barat sedangkan As-Syech Abdul Qodir jaelany Imam para wali dan sufi di penjuru Timur.
Diposkan
oleh umat rasulullah pukul 10.09
Tidak ada komentar:
Posting Komentar