Kisah Maulid Burdah / Sejarah Maulid Burdah
Kisah Maulid Burdah
Sejarah Maulid Burdah
Burdah artinya mantel dan juga dikenal sebagai Burdah
yang berarti shifa (kesembuhan)Burdah yang selama ini kita kenal tidak hanya
tertuju kepada gubahan-gubahan al-Bushiri. Burdah ternyata juga memiliki akar
yang kuat dalam budaya dan kesejarahan sastra di masa Rasulullah SAW.
A. Burdah Masa Nabi Muhammad saw.
Barangkali, selama ini kita, kalangan pesantren, hanya
mengenal Burdah karya al-Bushiri semata. Padahal, ada kasidah Burdah lain yang
muncul jauh sebelum al-Bushiri lahir (abad ke tujuh H, atau abad tiga belas
M.). Kasidah itu adalah bait-bait syair yang di gubah oleh seorang sahabat yang
bernama lengkap Ka’ab bin Zuhair bin Abi Salma al-Muzny. Sebagai ungkapan
persembahan buat Nabi Muhammad Saw. Ka’ab termasuk salah seorang Muhadrom,
yakni penyair dua zaman: Jahiliyah dan Islam.
Ada kisah menarik dibalik kemunculan Burdah Ka'ab bin
Zuhair ini. Mulanya, ia adalah seorang penyair yang suka menjelek-jelekkan Nabi
dan para sahabat dengan gubahan syairnya, kemudian ia lari untuk menghindari
luapan amarah para sahabat Nabi.
Pada peristiwa Fathu Makkah (penaklukan kota Mekah),
saudara Ka'ab yang bernama Bujair bin Zuhair berkirim surat padanya yang
berisikan antara lain: anjuran agar Ka'ab pulang dan menghadap Rasulullah.
Ka'ab-pun kembali dan bertobat. Lalu ia berangkat menuju Madinah dan
menyerahkan dirinya kepada Rasul melalui perantaraan sahabat Abu Bakar. Diluar
dugaan Ka'abb, ia justru mendapat kehormatan istimewa dari baginda. Begitu
besarnya penghormatan itu, sampai-sampai Rasul rela melepaskan Burdah (jubah
yang terbuat dari kain wol/sufi)nya dan memberikannya pada Ka'ab.
Dari sini, Ka'ab kemudian menggubah qasidah madahiyah
(syair-syair pujaan) sebagai persembahan pada baginda Nabi yang terkenal dengan
nama kasidah âBanat Suâadâ (Wanita-wanita Bahagia.) Kasidah ini terdiri dari 59
bait, dan disebut juga kasidah Burdah. Di antara prosa berirama gubahan Ka'ab
adalah Aku tahu bahwa Rasul berjanji untuk memaafkanku/dan pengampunannya
adalah dambaan setiap insan/Dia adalah pelita yang menerangi mayapada/pengasah
pedang-pedang Allah yang terhunus
Burdah (jubah) pemberian Nabi itu, kemudian dibeli oleh
sahabat Muâawiyah bin Abi Sufyan dari putra Kaâab. Dan biasa dipakai oleh
khalifah-khalifah setelah Muâawiyah pada hari-hari besar.
B. Burdah Al-Bushiri
Kasidah Burdah karya Syaikh al-Bushiri, adalah salah
satu karya sastra Islam paling populer. Ia berisikan sajak-sajak pujian kepada
Nabi Muhammad Saw. yang biasa dibacakan pada setiap bulan maulid/Rabiul Awal,
bahkan di beberapa belahan negeri Islam tertentu, Burdah kerapkali dibacakan
dalam setiap even.
Sajak-sajak pujian untuk Nabi dalam kesusastraan Arab
di masukkan dalam genre (bagian) al-madaih al-Nabawiyah. Sedang dalam
kesusastraan Persia dan Urdu, dikenal sebagai kesusastraan naâtiyah (bentuk
plural naât yang berarti pujian). Dalam tradisi sastra Arab, al-madaâih atau
naâtiyah mula-mula ditulis oleh Hasan ibnu Tsabit, Kaâab bin Malik dan Abdullah
bin Rawahah. Sedang yang paling terkenal ialah Kaâab bin Zuhair.
Pada abad ke-11 H., muncul seorang penyair al-madaih
terkemuka, Saâlabi, yang juga seorang kritikus sastra. Namun munculnya
al-Bushiri dengan Burdahnya, sebagaimana munculnya karya Majduddin Sanaâi dalam
bahasa Persia, al-madaih atau naâtiyah mencapai fase baru, yaitu tahapan
sufistik, karena bernuansa nafas tasawuf. Lahirnya karya kedua penyair ini yang
membuat puisi al-madaih berkembang pesat dalam kesusastraan Islam. Khusus karya
al-Bushiri, selain sangat populer, ia juga sangat besar pengaruhnya terhadap
kemunculan berbagai bentuk kesenian umat Islam. Karya al-Bushiri juga
memberikan pengaruh yang tidak sedikit dalam mengoptimalkan metode dakwah
Islamiyah, pendidikan dan ilmu retorika (ilmu Badiâ)
Nama Burdah muncul setelah pengarangnya mengemukakan
latar belakang penciptaan karya monumentalnya ini. Ketika al-Bushiri mendapat
serangan jantung, sehingga separuh tubuhnya lumpuh, dia berdoa tak
henti-hentinya sembari mencucurkan air mata, mengharapkan kesembuhan dari Tuhan.
Kemudian dia membacakan beberapa sajak pujian. Suatu saat dia tidak dapat
menahan kantuknya, lantas tertidur dan bermimpi. Dalam mimpinya, ia berjumpa
Nabi Muhammad saw. Setelah Nabi menyentuh bagian tubuhnya yang lumpuh, beliau
memberikan jubah sufi (Burdah) kepada al-Bushiri . Kemudian aku terbangun dan
kulihat diriku telah mampu berdiri seperti sediakalaâ ujar Syekh al-Bushiri.
Awalnya, al-Bushiri memberi nama karyanya ini dengan
nama kasidah Mimiyah, karena bait-bait sajaknya diakhiri dengan huruf Mim,
selanjutnya kasidah ini dikenal dengan kasidah Baraâah, sebab menjadi cikal
bakal sembuhnya sang pujangga dari kelumpuhannya. Hanya saja nama kasidah
Burdah lebih populer di kalangan umat Islam dibanding sebutan yang lain.
Kasidah Burdah terdiri atas 162 sajak dan ditulis
setelah al-Bushiri menunaikan ibadah haji di Mekkah. Dari 162 bait tersebut, 10
bait tentang cinta, 16 bait tentang hawa nafsu, 30 tentang pujian terhadap
Nabi, 19 tentang kelahiran Nabi, 10 tentang pujian terhadap al-Quran, 3 tentang
Isra Miraj, 22 tentang jihad, 14 tentang istighfar, dan selebihnya (38 bait)
tentang tawassul dan munajat.
Kasidah Burdah telah diterjemahkan ke dalam berbagai
bahasa dunia; seperti Persia, India, Pakistan, Turki, Urdu, Punjabi, Swahili,
Pastun, Indonesia, Sindi dan lain-lain. Di Barat, ia telah diterjemahkan antara
lain ke dalam bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Spanyol dan Italia.
Qoshidah Burdah ini tersebar ke seluruh penjuru bumi
dari timur ke barat. Bahkan disyarahkan oleh sekitar 20 ulama, diantaranya yang
terkenal adalah Imam Syaburkhiti dan Imam Baijuri.
Buletin Istinbat, Edisi Khusus Bulan R. Awal 1425 H
Tidak ada komentar:
Posting Komentar